7 Penyebab Banjir di Jakarta

Banjir Kanal Timur, akan mengurangi banjir di Timur dan Utara Jakarta Banjir besar yang terjadi di Ibukota Jakarta ...

Sejarah Jakarta

Orang Portugis merupakan orang eropa pertama yang datang ke Jakarta. pada abad ke-16, Surawisesa raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ..

Jakarta, Asian The Green City Index

Jakarta is ranked average overall in the Index. Indonesia's apital is the country's largest city, with a population 0f 9,2 million. With a GDP per person of US$ 7,600,

Wisata Ciliwung, sudah saatnya

Sungai Ciliwung pada abad VV - XVI merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, karena itu kapten kapal asing sering singgah untuk mengambil air segar untuk diisikan..

Ciliwung Bersih Bukan Sekedar Impian

Ciliwung yang Bersih dan Hijau mungkin bukan sekedar mimpi lagi, jika kondisi Ciliwung yang diambil pada 2 mei 2011 tetap bisa dipertahankan....

” Sudah saatnya Pemda DKI menindak tegas kepada siapa saja yang masih membuang sampah ke kali atau bantarannya.. dengan ketentuan Perda No. 5 / 1988 tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah DKI Jakarta ; ” ---> STOP NYAMPAH DI KALI... tabe'...
Showing posts with label Sejarah Kota Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Kota Jakarta. Show all posts

Wednesday, May 11, 2011

Sejarah Jakarta : Djakarta 1942-1972

Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hatu penduduk lokal pada Perang Dunia II.
Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kaotapraja di bawa walikota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu ( Dati I ) yang dipimpin seorang Gubernur.
Gubernur petama Djakarta adalah dr. Sumarno Sosroatmojo, seorang dokter tentara.Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno.

Sejarah Jakarta : Djakarta 1942-1972
Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI). Gubernurnya tetap Sumarno.Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Laju perkembangan penduduk ini pernah dicoba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.

Sejarah Jakarta : Batavia 1619-1942

Sejarah Jakarta : Batavia abad ke-18
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke -17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah satu kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia.
Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi.

Pada saat itu  luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20, Batavia di utara, Koningspein, dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon. ( wikipedia indonesia )

Baca juga..



Sejarah Jakarta : Jayakarta 1527-1619


Orang Portugis merupakan orang eropa pertama yang datang ke Jakarta.
pada abad ke-16, Surawisesa raja Sunda meminta bantuan Portugis yang berada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda kelapa sebagai perlindungan ari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. 
Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusuma, dimana Surawisesa di selokan dengan gelar Mundinglaya.

Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan.
Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, walikota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten. ( wikipedia indonesia )

Batavia (1619–1942)

Sejarah Jakarta : Sunda Kelapa (397–1527)

Jakarta pertma kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor ) dapat di tempuh dari pelabuhan Sunda Kelapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang,Cigede,Tamgara dan Cimanuk.

Sunda Kelapa dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan terpenting karena dapat ditempuh dari ibukota kerajaan  dalam waktu dua hari.
Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari KerajaanTarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 yang diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu. ( sumber : Wikipedia Indonesia )

Sejarah Kota Jakarta

Jakartaku Masa Kini
Nama Jakarta dianggap sebagai kependekan dari kata Jayakarta. Nama ini pada awalnya diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah ( Falatehan ) setelah menyerang dan menaklukan pelabuhan sunda kelapa pada tanggal 22 Juni 1527.
Jayakarta diterjemahkan sebagai kota kemenangan atau kota kejayaan. Namun arti sebenarnya adalah " Kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan  atau usaha".

  • Sunda Kelapa : Abad ke-14 sebagai pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran.
  • Jayakarta (1527–1619)22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
  • Batavia (1619–1942) : 
    • 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
    • 1 April 1905 berubah nama menjadi Gemeente Batavia � 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia
  • Djakarta (1942–1972)8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah  menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
    • September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
    • 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
    • 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praja Jakarta. � 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Jakarta .Raya.
    • Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
  • Pemerintah Propinsi DKI Jakarta : 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
  Walikota Dan Gubernur :
  • Suwiryo, Walikota (1945 -1951)
  • Sjamsuridjal, Walikota (1951- 1953)
  • Sudiro, Walikota (1953- 1960)
  • Dr. Sumarno, Mayjen TNI AD (Purn.),Gubernur (1960- 1965)
  • Henk Ngantung, Gubernur (1-964 - 1965)
  • H. Ali Sadikin, Letjen TNI AL/Marinir (Purn.),Gubernur (1966- 1977)
  • H. Tjokropranolo, Letjen TNI AD (Purn.),Gubernur (1977 - 1982)
  • R. Soeprapto, Mayjen TNI AD (Purn.),Gubernur (1982 - 1987)
  • Wiyogo Atmodarminto, Letjen TNI AD (Purn.),Gubernur (1987 - 1992)
  • Surjadi Soedirdja Gubernur ( 1992 - 1997 )
  • Sutiyoso , Letjend ( Purn ) TNI AD Gubernur ( 1997 - 2007 )